Sejarah Perkembangan Permukiman Etnis Tionghoa di Kabupaten Bondowoso Tahun 1998-2003

Mrs, Fiki Fardinanto (2022) Sejarah Perkembangan Permukiman Etnis Tionghoa di Kabupaten Bondowoso Tahun 1998-2003. Undergraduate thesis, UIN Khas Jember.

[img] Text
BARU Fiki Fardinanto_U20184039.pdf

Download (2MB)

Abstract

Fiki Fardianto 2022: “Sejarah Perkembangan Permukiman Etnis
Tionghoa di Kabupaten Bondowoso Tahun 1998-2003”
Wilayah ujung timur Pulau Jawa sebagai pengembangannya. Orangorang etnis Tionghoa juga menempati beberapa kedudukan yang mempunyai
tanggung jawab yang begitu besar, dalam pemerintahan kerjaan-kerajaan
Jawa. Terikatnya sebuah persekutuan, yang melalui perkawinan, dengan
keluarga-keluarga etnis Tionghoa peranakan yang berada di pinggir pantai, di
samping perkawinan yang mereka laksanakan dengan pangeran-pangeran
kerajaan jawa. Bupati daerah Besuki yang merupakan orang Tionghoa yang
bernama Han Mi Joen, yang memiliki gelar Tumenggung Suroadiwikrama.
Tahun 1795 Bupati Puger yaitu Prawirodiningrat wafat, dan pada saat itu
VOC mengangkat Ronggo Besuki, yaitu kyai Ronggo Suro Adiwikrama
sebagai Bupati Puger, yang diberi gelar Kyai Tumengung Sura Adiwikrama.
Dengan syarat-syarat yang sama dalam hal penyerahan hasil bumi kepada
VOC seperti para pendahulunya. Pada masa Bupati inilah ibukota Kabupaten
Puger di pindah ke Daerah Bondowoso. Tahun 1798, Distrik Besuki disatukan
secara administratif dengan distrik Kabupaten Bondowoso dan juga Puger.
Pada saat itu hawa Bondowoso nampaknya tidak cocok, sehingga ia sering
sakit. Pada tahun 1798 Tumenggung Suro Adiwikromo pindah ke daerah
Besuki, dan menyerahkan pengawasan tidak langsung atas daerah tersebut
kepada Mantri Wedana Kertonegoro, yaitu pada tahun 1801 Bupati Puger,
Kyai Tumengung Suro Adiwikrama wafat. Menantunya yang pada saat itu
menjabat sebagai Ronggo Besuki, menggantikannya sebagai Bupati Puger.
Pada tahun 1802 dengan gelar Kyai Tumenggung Surio Adiningrat dan
bertempat tinggal di Bondowoso. Dari sinilah orang-orang Tionghoa berada di
Daerah Bondowoso dikarenakan pemimpin-pemimpin terdahulu merupakan
keturunan Tionghoa yang diprakasai oleh VOC. Ibu kota pertama daerah
Bondowoso atau tempat kediaman Bupati Bondoowoso adalah daerah
Blindungan Bondowoso. Pada tahun 1998 permukiman etnis Tionghoa
menyebar dengan masyarakat lokal yang ada di Bondowoso, faktor yang
mempengaruhi persebaran ini adalah, dikarenakan adanya asimilasi dengan
masyarakat lokal yang ada di Bondowoso. Tidak adanya sekat inilah yang
menyebabkan berbagai percampuran budaya selain faktor asimilasi yang
mempengaruhi itu. Budaya asli etnis Tionghoa yang berada di nusantara ini
berasal dari nenek moyang negeri Tiongkok (negeri Cina), yang kemudian
banyak mengalami proses asimilasi atau pencampuran dengan masyarakat
lokal yang ada di Indonesia. Di dalam proses perubahan Agama masyarakat
etnis Tionghoa, peran masyarakat lokal juga sedikit banyak mempengaruhi,
yaitu adalah dengan berbaurnya masyarakat lokal Bondowoso dengan
masyarakat etnis Tionghoa, sehingga memunculkan rasa aman dan damai.
Dari sinilah munculnya keinginan masayarakat etnis Tioghoa untuk memeluk
Agama Islam, yang dimana Islam merupakan Agama yang mayoritas dipeluk
oleh masyarakat lokal yang ada di Bondowoso.
Kata Kunci: Tionghoa, Permukiman, Perubahan Agama dan Budaya

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Depositing User: Mrs Fiki Fardinanto
Date Deposited: 19 Jul 2022 02:18
Last Modified: 19 Jul 2022 02:18
URI: http://digilib.uinkhas.ac.id/id/eprint/10924

Actions (login required)

View Item View Item