Fāḥisyah dalam Surah Al-A’raf Ayat 80-81 (Kajian terhadap Penafsiran Husein Muhammad dan Musdah Mulia).

MUDMAINAH, SITI (2021) Fāḥisyah dalam Surah Al-A’raf Ayat 80-81 (Kajian terhadap Penafsiran Husein Muhammad dan Musdah Mulia). Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

[img] Text
SITI MUDMAINAH_U20161058.pdf - Submitted Version

Download (4MB)

Abstract

Homoseksual dalam bahasa Arab disebut dengan liwâth yang dinisbatkan kepada perbuatan kaum Nabi Luth yang pertama kali dalam sejarah kehidupan manusia melakukan perbuatan keji yang disebut fāḥisyah dalam al-Qur’an, salah satunya surah al-A’raf ayat 80-81. Penafsiran terhadap ayat ini menimbulkan pemahaman baru terhadap kajian pemikir Islam kontemporer Indonesia yang peka dan sensitif terhadap isu-isu seksualitas yaitu Husein Muhammad dan Musdah Mulia. Menurutnya, masyarakat telah terhegomoni oleh paradigma patriarkhis dan heteronormativitas yang dihasilkan oleh interpretasi terhadap ayat-ayat al-Qur’an, yaitu ideologi yang mengharuskan manusia berpasangan secara lawan jenis; dan harus tunduk pada aturan heteroseksual yang menggariskan tujuan perkawinan adalah semata-mata untuk prokreasi atau memperoleh keturunan. Fokus penelitian pada skripsi ini sebagai berikut: (1) Bagaimana makna fāḥisyah dalam surah al-A’raf ayat 80-81 menurut Husein Muhammad dan Musdah Mulia? (2) Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi penafsiran Husein Muhammad dan Musdah Mulia? (3) Bagaimana implikasi penafsiran Husein Muhammad dan Musdah Mulia terhadap kajian tafsir di Indonesia?. Adapun jenis penelitian ini adalah kajian kepustakaan (library research) dengan metode analisis content analysis dan pendekatan Hermeneutika Filosofis Hans Georg Gadamer. Dari penelitian ini diperoleh hasil: (1) Menurut Husein dan Musdah, homoseksual sesungguhnya bukan “liwȃth” atau “luth”, sebab kedua istilah ini merujuk pada relasi seksual yang pernah dilakukan kaum Nabi Luth sebagai Sodom (masyarakat yang berperilaku sodomi). Homoseksual adalah orientasi seksual kepada sejenis, sementara liwâth (sodomi) adalah perilaku seksual yang menyasar ke anus (dubur), bukan ke vagina. Liwâth (sodomi) bisa dilakukan oleh kaum homoseksual dan juga heteroseksual, atau bahkan biseksual. (2) Faktor�faktor yang mempengaruhi penafsiran Husein dan Musdah dapat dilihat dari konsep humanistik utama Gadamer yaitu keterpengaruhan historis pengarang terhadap teks yakni, bildung keduanya yang berlatarbelakang pesantren namun berbeda dalam bidang akademiknya, sensus communis keduanya menjadikan tafsir feminis sebagai patokan dalam commons sence (logika wajar), ulteilskraft (pertimbangan reflektif) keduanya memiliki kecenderungan terhadap penafsiran yang liberal yaitu sangat menekankan rasio dan empiris, selera keduanya berupa kajian gender, kajian fiqh, dan kajian tafsir al-Qur’an. (3) Penafsiran Husein dan Musdah berimplikasi positif bagi kaum LGBTIQ atau homoseksual dan dapat membuka pemahaman yang baru terhadap kajian tafsir di Indonesia yang cenderung diskriminatif terhadap kaum minoritas untuk tidak memperlakukan kaum homo sama dengan kaum sodomi, baik secara sosial maupun hukum. Namun mufasir klasik yang menolak terhadap homoseksualitas (liwâth) akan tetap mengatakan tindakan mereka (sodomi) sebagai kekejian yang lebih rendah dari binatang sekalipun. Sekaligus “menghalangi jalan” untuk prokreasi, yaitu memperoleh keturunan, sebagaimana tujuan dari sebuah pernikahan yang sah antara laki-laki dan perempuan.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Depositing User: Mr abdul mangang
Date Deposited: 08 Sep 2022 07:29
Last Modified: 08 Sep 2022 07:29
URI: http://digilib.uinkhas.ac.id/id/eprint/12982

Actions (login required)

View Item View Item