Abdila, Ryan (2026) ANALISIS SEMIOTIKA DALAM FILM PENDEK ORA SRAWUNG, MATI SUWUNG. Undergraduate thesis, Universitar Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
|
Text
RYAN ABDILA NUGROHO_2221030100028.pdf Download (2MB) |
Abstract
Ryan Abdila Nugroho, 2026: Analisis Semiotika Dalam Film Pendek Ora Srawung, Mati Suwung.
Kata Kunci: Film, Semiotika Roland Barthes, Nilai Sosial Budaya Jawa, Srawung
Film pendek Ora Srawung, Mati Suwung Ravacana Films pada tahun 2020 yang disutradarai oleh Destian Rendra Pratama dan diadaptasi dari cerpen Imarotul Izzah mengangkat kisah Bu Murti, seorang penjual jamu gendong yang mengalami kehancuran sosial akibat gosip dan prasangka warga desanya. Di tengah arus modernisasi yang semakin menggerus kohesi sosial, nilai srawung sebagai inti interaksi komunal masyarakat Jawa kian melemah dan terdegradasi, sehingga film ini menjadi medium refleksi yang relevan untuk dikaji secara semiotis.
Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana Makna Sosial dan Filosofis yang dibangun Melalui Relasi Antar Tanda dalam Film Pendek Ora Srawung, Mati Suwung. 2) Bagaimana Representasi Nilai Sosial Budaya Jawa dalam Film Pendek Ora Srawung, Mati Suwung.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif dan jenis penelitian analisis semiotika. Teori utama yang digunakan adalah semiotika Roland Barthes yang membagi makna ke dalam tiga tingkatan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Analisis dilakukan terhadap lima adegan kunci film yang dipilih melalui teknik observasi berulang dan dokumentasi visual, dengan didukung oleh teori interaksi sosial dari Georg Simmel, George Herbert Mead, dan Soerjono Soekanto. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik, serta ketekunan pengamatan dengan menonton film secara berulang untuk mengidentifikasi secara cermat tanda-tanda visual, dialog, ekspresi tokoh, pencahayaan, dan elemen suara yang merepresentasikan nilai sosial budaya Jawa.
Makna sosial dan filosofis dalam film dibangun melalui relasi antar tanda yang berlapis, di mana tanda-tanda visual seperti kesunyian rumah, jarak emosional antartokoh, dan pencahayaan redup secara konotatif merepresentasikan keterasingan sosial, sementara pada tingkat mitos film menolak anggapan bahwa komunalisme Jawa selalu harmonis karena srawung yang terdegradasi justru menjadi mekanisme eksklusi yang berujung pada mati suwung kematian sosial akibat hilangnya pengakuan komunitas. Kedua, film merepresentasikan nilai-nilai luhur budaya Jawa seperti srawung, guyub rukun, tepa selira, dan andhap asor bukan sebagai idealisme yang utuh, melainkan sebagai sistem nilai yang rentan terdistorsi dari dalam, sehingga menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi nilai sosial budaya Jawa bukan semata-mata individualisme modern, melainkan degradasi moral internal komunitas yang mengubah solidaritas menjadi penghakiman kolektif terhadap individu yang paling lemah dan rentan.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | 20 LANGUAGE, COMMUNICATION AND CULTURE > 2001 Communication and Media Studies > 200101 Communication Studies |
| Divisions: | Fakultas Dakwah dan Komunikasi > Komunikasi dan Penyiaran Islam |
| Depositing User: | Ryan Abdila Nugroho |
| Date Deposited: | 01 Jul 2026 02:35 |
| Last Modified: | 01 Jul 2026 02:35 |
| URI: | http://digilib.uinkhas.ac.id/id/eprint/57019 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
