Zulfa, Aida (2026) Makna Khair Dalam Doa NAbi Musa (Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam Qs. Al-Qashas Ayat 24). Undergraduate thesis, UIN KHAS JEMBER.
|
Text
FIX SKRIPSI WM.pdf Download (1MB) |
Abstract
Kata Kunci: Khair, Qs. Al-Qashas:24, Semiotika Roland Barthes
Makna dari setiap lafadz dalam al-qur’an tidak selalu disampaikan secara langsung
dan jelas, melainkan membutuhkan proses penerjamahan untuk dapat mengungkap
makna yang tersembunyi. Biasanya dengan melalui dua aspek yaitu aspek bahasa
atau penafsiran. Penelitian ini didasarkan pada adanya fenomena permohonan
jodoh yang dikaitkan dengan qs. Al-qashas ayat 24, baik dalam konteks sosial
maupun media digital. Ini menandakan bahwa doa yang terdapat dalam ayat
tersebut tidak cukup jika hanya dimaknai dengan permohonan rezeki semata, tetapi
juga dimaknai sebagai doa untuk memohon datangnya jodoh juga.
Fokus pada penelitian ini yaitu: 1) Bagaimana latar belakang dari qs. Al-Qashas
ayat 24? 2) Bagaimana analisis kata khair dalam doa Nabi Musa as yang terdapat
pada qs. Al-qashas ayat 24 dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland
Barthes? Adapaun tujuan dari penelitian ini adalah 1) Untuk mendiskripsikan latar
belakang dari qs. Al-qashas ayat 24. 2) Untuk mendeskripsikan serta menganalisis
kata khair dalam doa Nabi Musa as yang terdapat pada qs. Al-qashas ayat 24 dengan
menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes yang terdiri dari makna
denotasi, konotasi dan mitos.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis studi Pustaka (library
research). Data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu, dari al-qur’an (qs. Alqashas ayat 24), buku, kamus arab, jurnal dan literatur yang relevan dengan
semiotika Roland Barthes. Serta analisis data yang menggunakan model Miles dan
Huberman, yaitu melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan
penarikan kesimpulan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada pemaknaan Denotative, lafadz
khair dimaknai sebagai kebaikan secara umum yaitu, kebutuhan dasar Nabi Musa
as saat itu seperti makanan dan pertolongan. Sedangkan pada pemaknaan konotatif,
lafadz khair berkembang lebih spesifik yang mana oleh sebagian masyarakat
diinterpretasikan sebagai jodoh atau pasangan hidup. Adapun pada tahapan mitos,
khair diartikan sebagai doa untuk mendatangkan jodoh yang terbentuk melalui
konstruksi sosial yang terus di reproduksi, terutama melalui media digital. Dengan
demikian, penelitian ini menegaskan bahwa makna suatu teks al-qur’an dapat
mengalami perkembangan sesuai dengan konteks sosial dan budaya tanpa
menghilangkan makna dasarnya.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220403 Islamic Studies |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir |
| Depositing User: | Aida Zulfa |
| Date Deposited: | 07 Jul 2026 07:53 |
| Last Modified: | 07 Jul 2026 07:53 |
| URI: | http://digilib.uinkhas.ac.id/id/eprint/58346 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
