Zainiah, Zainiah (2025) Perayaan Pemerintahan Ratu Wilhelmina di Hindia Belanda (1923-1948). Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
|
Text
ZAINIAH-DIGILIB PERPUSTAKAAN (1).pdf Download (2MB) |
Abstract
Pada masa pemerintahan Ratu Wilhelmina (1898-1948), Hindia Belanda menjadi salah satu wilayah jajahan penting bagi Kerajaan Belanda karena memiliki sumber daya alam yang melimpah dan letak yang strategis. Pemerintah kolonial berupaya meneguhkan kekuasaannya melalui berbagai kebijakan dan kegiatan yang menampilkan kekuasaan dan kesan kedekatan dengan rayat jajahan, mekipun banyak kebijakan tersebut tidak memberikan hasil yang memuaskan. Salah satu bentuk kegiatannya adalah perayaan pemerintahan Ratu Wilhelmina yang diselenggarakan di berbagai daerah Hindia Belanda. Perayaan tersebut mencerminkan strategi politik pemerintah kolonial dalam mempertahankan legitimasi kekuasaan di tengah munculnya berbagai pergolakan rakyat yang menentang dominasi Belanda.
Fokus dalam penelitian ini ada tiga yaitu: (1) Apa latarbelakang diadakannya perayaan pemerintahan Ratu Wilhelmina di Hindia Belanda? (2) Apa bentuk-bentuk perayaan pemerintahan Ratu Wilhelmina di Hindia Belanda (1923-1948)? (3) Bagaimana dampak perayaan pemerintahan Ratu Wilhelmina terhadap aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Hindia Belanda (1923-1948)?
Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami latar belakang, bentuk-bentuk, dan dampak perayaan pemerintahan Ratu Wilhelmina di Hindia Belanda pada tahun 1923-1948. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah Kuntowijoyo yang meliputi tahapan pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Analisis didasarkan pada teori kekuasaan Michel Foucault yang memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang produktif dan tersebar melalui wacana, digunakan untuk menelaah bagaimana perayaan tersebut menjadi strategi politik kolonial dalam mempertahankan legitimasi kekuasaan melalui praktik-praktik budaya.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa perayaan pemerintahan Ratu Wilhelmina diselenggarakan sebagai strategi politik kolonial untuk mempertahankan legitimasi kekuasaan serta menampilkan kestabilan wibawa kerajaan di tengah berbagai pergolakan masyarakat di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung. Bentuk perayaan di berbagai wilayah menunjukkan perpaduan unsur lokal dan kolonial. Di Besuki ditampilkan kesenian aduan sapi, di Yogyakarta diselenggarakan jamuan makan malam resmi, Surabaya mengadakan Jaarmarkt, dan Batavia menghadirkan Pasar Gambir. Dampaknya terlihat pada bidang politik melalui upaya memperkuat loyalitas masyarakat pribumi terhadap pemerintah kolonial. Pada bidang ekonomi, perayaan mendorong meningkatnya perdagangan, keramaian pasar, penjualan hasil bumi, serta aktivitas pelaku usaha lokal. Pada bidang sosial budaya, perayaan membuka ruang percampuran budaya melalui pertunjukan seni lokal yang tampil berdampingan dengan hiburan ala Eropa, sehingga memunculkan interaksi dan pengenalan budaya antarkelompok dalam masyarakat Hindia Belanda.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | 21 HISTORY AND ARCHAEOLOGY > 2102 Curatorial and Related Studies > 210201 Archival, Repository and Related Studies |
| Depositing User: | S.Hum Zainiah Zainiah |
| Date Deposited: | 31 Dec 2025 03:37 |
| Last Modified: | 31 Dec 2025 03:37 |
| URI: | http://digilib.uinkhas.ac.id/id/eprint/51079 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
