Nurlaily, Ananda Dian (2026) RELASI KUASA DALAM MAKNA RĀWADATHU DAN HAMMA BIHĀ: STUDI KOMPARATIF TAFSIR AL-QURṬUBĪ DAN AL-MARĀGHĪ. Undergraduate thesis, UIN Kyai Haji Achmad Siddiq Jember.
|
Text
Revisi Skripsi ANANDA DIAN NURLAILY.pdf Download (1MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan penafsiran terhadap lafadz rāwadathu dan hamma bihā dalam QS. Yusuf: 23–24 yang tidak hanya berkaitan dengan aspek kebahasaan, tetapi juga menyentuh persoalan moralitas, relasi gender, dan kemaksuman nabi. Tafsir klasik dan modern menunjukkan kecenderungan yang berbeda dalam memahami kedua lafadz tersebut, terutama dalam memaknai peran perempuan dan respons Nabi Yusuf terhadap godaan. Perbedaan ini menarik untuk dikaji lebih lanjut karena berimplikasi pada konstruksi wacana perempuan dalam penafsiran Al-Qur’an.
Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi: (1) bagaimana makna kata rāwadathu dan hamma bihā dalam Tafsir al-Qurṭubī dan al-Marāghī; (2) bagaimana perbedaan pendekatan kedua mufassir dalam memahami relasi kuasa antara Yusuf dan Zulaikha melalui dua kata tersebut; dan (3) Bagaimana konstruksi relasi kuasa dalam penafsiran dua lafadz tersebut dalam kedua tafsir?
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tafsir komparatif dengan metode analisis deskriptif-analitis. Sumber utama penelitian ini adalah Tafsir al-Qurṭubī dan Tafsir al-Marāghī, sedangkan sumber sekunder meliputi literatur tafsir, ilmu bahasa Arab (naḥwu dan ṣarf), serta teori analisis wacana dari Michel Foucault. Teknik analisis data dilakukan dengan membandingkan penafsiran kedua mufassir serta mengkaji implikasi wacana yang dihasilkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara linguistik, lafadz rāwadathu mengandung makna tindakan persuasif yang dilakukan secara halus dan bertahap, sedangkan hamma bihā menunjukkan adanya dorongan kehendak yang tidak sampai pada tindakan karena adanya penghalang (lawlā). Dalam tafsir al-Qurṭubī, kedua lafadz tersebut ditafsirkan dengan pendekatan riwayat dan normatif yang cenderung membangun wacana perempuan sebagai sumber fitnah dan menekankan kontrol moral. Sementara itu, tafsir al-Marāghī menafsirkan keduanya dengan pendekatan rasional dan psikologis, dengan menekankan bahwa hamma bihā merupakan tindakan defensif dan bahwa peristiwa tersebut adalah ujian moral yang bersifat universal. Dalam perspektif Michel Foucault, perbedaan ini menunjukkan bahwa tafsir tidak hanya berfungsi sebagai penjelasan teks, tetapi juga sebagai produksi wacana yang membentuk konstruksi sosial tentang perempuan dan moralitas.
Kata kunci: QS. Yusuf: 23–24, Tafsir al-Qurṭubī, Tafsir al-Marāghī, Relasi Kuasa
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2202 History and Philosophy of Specific Fields > 220209 History of Ideas 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220403 Islamic Studies 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220405 Religion and Society 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220407 Studies in Religious Traditions (excl. Eastern, Jewish, Christian and Islamic Traditions) |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora > Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir |
| Depositing User: | Mrs Ananda Dian Nurlaily |
| Date Deposited: | 07 Jul 2026 00:24 |
| Last Modified: | 07 Jul 2026 00:24 |
| URI: | http://digilib.uinkhas.ac.id/id/eprint/58259 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
